| |

UC FORUM

 Forgot password?
 register
View: 656|Reply: 0

[Share] Merawat Kebhinekaan Indonesia

[Copy link]
Post time: 11-6-17 12:40:04
| Show all posts |Read mode
Edited by Ayyasy at 11-6-17 12:40

bhineka-tunggal-ika.jpg

Apakah tinggal di Indonesia merupakan suatu nikmat atau laknat?

Kata orang Indonesia adalah sepenggal surga. Kaya akan sumber daya alamnya. Menanam tongkat saja dapat menjadi pohon. Katanya pula Indonesia adalah negara yang mampu merawat dan menghormati keberagaman. Bagaimana tidak, menurut Kemendagri, Indonesia memiliki  257.912.349 jiwa penduduk. Terbukti dari mentri, gubernur, wali kota bisa berlatar agama yang berbeda-beda. Mereka hidup berdampingan meskipun berasal dari agama, suku, etnis dan budaya yang berbeda. Ketika di luar sana,  masih ada keraguan negara terhadap aktivitas ibadah penduduknya, Indonesia telah lebih dahulu memberikan hak warga negaranya untuk menjalankan ajaran agamanya. Ketika di luar sana masih ada penduduk negara yang tidak mendapatkan waktu untuk merayakan hari raya agama dari negaranya, maka Indonesia sejak tempo dulu telah memberikan hari libur bagi agama wajib negaranya, tidak tanggung-tanggung, ada 5 agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghucu. Salah satu simbol kerukunan beragama dapat dilihat dengan beridirinya Masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal di depan gereja Ketedral di Jakarta. Suatu pemandangan yang indah bukan?

Agama memiliki peran penting dalam menjalankan tata cara bermasyakat di Indonesia baik dalam ekonomi, politik, pendidikan, maupun budaya. Hal ini dapat dilihat pada Pancasila sila pertama:”Ketuhana Yang Maha Esa”. Menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Kong Hu Cu, , dan 0,13% agama lainnya. Hal tersebut akan jarang ditemui di beberapa tempat di luar sana. Namun, seiring berjalannya waktu banyak opini yang disebar oleh oknum tertentu yang menyatakan bahwa agama, khususnya Islam selaku agama mayoritas telah bertentangan dengan ideologi negara dan ajarannya telah meresahkan kehidupan masyarkat, seperti kasus bom dan teroris yang membawa embel-embel arab. Tentu hal tersebut adalah pemikiran yang keliru dan telah meresahkan bagi pemeluk Islam itu sendiri maupun non Islam karena telah menciptakan celah dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak dapat dipungkiri karena suatu sebab, kerukunan yang telah terbangun sejak lama kini perlahan kendur. Banyak orang lebih senang mengikuti tendensi ketimbang akal jernihnya. Padahal Indonesia telah menjadi rumah bagi setiap pemeluk agama, terlepas pemeluk yang taat maupun yang belum taat.

Agama akan selalu menjadi bahasan menarik yang tiada akhir dan akan menjadi sensitif bila tidak ditangani secara bijak dan cerdas. Bagaiman tidak, hampir di seluruh wilayah Indonesia akan mendengar suara adzan 5 kali dalam sehari, penggunaan kalimat Asalamu’alaikum, Alhamdulillah, Insya Allah, Astaghfirullah yang sudah begitu cair dari bibir masyarakat Indonesia, terlepas agama yang dianutnya. Tidak hanya itu, bangunan gereja dan rumah ibadah lainnya pun dapat berdiri dengan aman di bumi Indonesia ini. Bahkan sebagian mesjid memiliki arsitektur campuran budaya seperti Masjid Agung Demak.

Kebanyakan orang sering menggunakan persepsi dan definisi yang berbeda dalam memulainya sehingga akan sulit menemukan titik temu pada akhirnya. Setiap pemeluk agama berhak untuk meyakini kebenaran agama yang dianutnya serta menjalankannya dengan merdeka dan tidak harus diikuti oleh pemeluk agama lain. Sebagai contoh, umat Hindu meyakini agama mereka adalah agama yang paling benar. Begitu pun dengan umat Islam, mereka juga meyakini bahwa agama merekalah yang paling benar. Bagi umat Kristiani, selain mereka adalah domba-domba yang tersesat dan mereka harus diselamatkan. Bagi umat Yahudi, selain mereka adalah Amelek, ia adalah ungkapan untuk bangsa yang tidak layak hidup di muka bumi dan diperbolehkan untuk dibunuh. Apakah hal tersebut suatu masalah? Tentu saja bukan, karena agama memiliki ruang pada sanubari manusia yang tidak harus diikuti oleh manusia lainnya. Perlu pikiran yang bijak dalam mencerna ini bagi setiap individu.

Pada dasarnya, manusia menyukai hal yang baik-baik. Ingin hidup tenang, damai, dihormati, rukun, berdampingan, dan saling tolong menolong. Itulah fitrah sejak lahirnya. Selaku warga negara dan juga mahasiswa yang baik, seyogyanya setiap individu mampu menghormati berbagai macam perbedaan yang ada. Karena Indonesia terlalu besar untuk dikotak-kotakkan. Keberagaman di Indonesia semestinya tidak menjadi laknat, akan tetapi menjadi nikmat. Mari perhatikan pelangi yang memiliki berbagai macam warna. Indah bukan? Seperti itulah Indonesia. Setiap anak Indonesia hanya harus menjunjung toleransi dan saling menghormati pada sesama. Pancasila telah meletakkan panduan agar penduduk pertiwi hidup bahagia, aman dan selaras. Seorang kawan Polandia mengatakan,”So, you are from Indonesia?” tanyanya dengan dengan antusias. Kemudian penulis menjawabnya, yes. Setelah mendengar itu, ia pun berujar kembali,”If I have enough money, I want to go to Indonesia. Your country like Disney Land. You can find Barongsai, tari, and many more there.” Mendengar hal tersebut, penulis pun semakin bangga dilahirkan sebagai Indonesia. Apakah setiap kita menyadari bahwa Indonesia adalah sepenggal surga?

Menjaga keberagaaman. Menjaga kerukunan. Mari merawatnya dengan cinta kasih, dan beri kontribusi terbaik untuknya. Bukan angkara murka. Karena kiita Pancasila. Karena kita Indonesia.

M. Yahya Ayyasy
Faculty of Economic and BusinessSebelas Maret University





You have to log in before you can reply Login | register

Points Rules

Dark room|Mobile|UCWeb Inc.    

20-9-17 06:32 GMT+8

Quick Reply To Top Return to the list